3 Hal Soal Baterai Lithium di Kendaraan Listrik

Upaya produsen mobil memproduksi mobil listrik adalah upaya menuju emisi 0 karbon. Penggunaan baterai menjadi salah yang krusial pada dalam produksi kendaraan atau mobil listrik.

Meski begitu, sumber daya mobil listrik menghadirkan risiko bahaya. Pabrikan pun mengembangkan fitur keselamatan yang sesuai untuk mengurangi risiko tersebut.

Baterai Lithium-ion atau baterai lithium menjadi salah satu jenis baterai yang populer digunakan oleh produsne mobil listrik.

Baterai jenis ini mudah terbakar, dapat terbakar, serta memiliki sel daya yang dapat menyebabkan korsleting jika rusak. Namun, baterai lithium-ion memiliki risiko ledakan api jauh lebih rendah daripada bensin di kendaraan konvensional.

1. Kisaran suhuPenggunaan baterai lithium sendiri dikondisikan memiliki jangkauan operasi jauh lebih sempit yang berada di sekitar 15 hingga 45 derajat. Namun, kebanyakkan kendaraan standar modern saat ini dirancang untuk dapat beroperasi pada suhu dari minus 30 derajat celcius hingga panas di atas 50 derajat.

KIA menambahkan pemanfaatan cairan atau udara hingga manajemen serta pemantauan pendinginan sangat disarankan untuk keselamatan baterai, kendaraan, dan penumpang yang sebenarnya.

2. Thermal runawayThermal runaway adalah reaksi berantai tak terbendung yang menyebabkan kebakaran pada suhu 60 ke atas. Hal ini terjadi karena paket baterai yang lebih besar dengan lebih banyak sel hingga dimasukkan ke dalam paket baterai yang lebih besar dengan kapasitas yang dikemas.

3. ElektrolitElektrolit dalam baterai lithium-ion atau baterai lithium dengan kondisi yang penuh dari bahan yang mudah terbakar dengan bahan kimia berbahaya dapat terbakar dalam keadaan apa pun. Namun, pabrikan mengatasinya dengan membagi baterai kendaraan listrik menjadi sel-sel kecil dengan memisahkan dinding api. Paling tidak bisa ditunda penyebarannya ke bagian tetangga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.